Contoh membuat proposal, Proposal PTK, cara membuat penelitian tindakan kelas, proposal penelitian sekolah dasar, PTK SD, PTK IPA kelas IV, Kumpulan proposal PTK dan lainnya
KOMPAS.com — Musuh utama Ustaz Abu Bakar Ba'asyir di dunia ini bukanlah Pemerintah Indonesia—siapa pun presidennya—melainkan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Setiap kali beperkara dengan aparat penegak hukum, Abu Bakar Ba'asyir selalu menuding AS-lah dalang perkara tersebut. Demikian pula saat ditangkap kembali oleh tim Densus 88 Antiteror di Banjar Patroman, Ciamis, Jawa Barat, Senin (9/8/2010) pagi, dia langsung menuding AS berada di balik penangkapannya. Selengkapnya
Sejauh ini prose pembelajaran masih berpusat pada guru atau buku teks sebagai sumber utama pengetahuan, dimana guru hanya mentaransfer ilmunya dengan cara berceramah, yang sama sekali tidak memberdayakan siswa. Ilmu dimaknai sebagai seprangkat fakta-fakta yang harus di hafal, tanpa dimaknai.
Oleh karena itu diperlukan sebuah strategi belajar”baru” yang lebih memberdayakan siswa menghafal semua fakta-fakta, melainkan mendorong siswa menkonstruksikan pengatahuan yang ada di benak masing-masin. Melalui landasan konstruktivisme, yang di anggap senafas denagn CTL, maka CTL digunakan digunakan sebagai alternative strategi belajar baru, yang diharapkan dapat mengubah pandangan bahwa siswa dapat belajar melalui pengalaman-pengalaman, bukan karena menghafal. Pendekatan kontruktivisme menurut Jonnasen (1991) dan Marra dan Jonnasen (1993), sebagaimana di kutip oleh Carr,dkk(1998:8) dalam Fachrurrazy(2001:1), pendekatan konstruktivisme muncul sebagai alternative terhadap pendekatan obyektivis. Dasar dari pandangan konstruktivis adalah anggapan bahwa dalam proses belajar :
a)Siswa tidak segitu saja menerima ilmu pengetahuan, yang kemudian menyimpannya dalam ingatan, melainkan mereka menerima informasi-informasi dari lingkungan sekitarnya, kemudian membangun pandangan mereka sendiri tentang pengetahuan yang baru mereka dapatkan
b)Semua pengetahuan disimpan dan di gunakan oleh setiap orang melalui pengalaman-pengalaman yang dihadapinya.
Pendekatan konstruktivisme dalam praktek pengajaran (Brooks & Brooks dalam Fahrurrazy:1) akan dapat membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk atau mentransformasi pengetahuan baru.
Ciri-ciri dari prinsip konstruktivisme:
1.Siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar karena focus belajarnya ada pada proses pengintegrasian pengetahuan baru dengan pengertian lama, yang sudah di miliki. Setiap pandangan meskipun berbeda akan tetap dihargai kemungkinan mensintensis segala sesuatu yang terintegrasi.
2.Proses belajar mengajar harus selalu mengarahkan siswa untuk bekerja sama, bukan bersaing.
3.Kontrol kecepatan dan focus pembelajaran, ada pada siswa, karena hal ini siswa harus benar-benar di berdayakan.
4.Pendekatan kontruktivisme akan memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang tidak lepas dari konteks kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu guru yang kontruktivis harus mampu :
a.Menggali kemampuan awal siswa yang di jadikan sebagai acuan untuk memulai pembelajaran.
b.Menyajikan pembelajaran yang memunculkan masalah-masalah baru yang relevan bagi siswa, merancang pembelajaran yang memulai dari konsep dasar sampai ide-ide besar, bukan bagian-bagian kecil yang terpisah-pisah satu sama lain.
c.Memberikan tugas pada siswa yang mengarah pada pelatihan kemampuan yang mengklasifikasi, menganalisa, memprediksi dan mencipta.
Pendekatan pembelajaran yang mengkonstruk merupakan kecendrungan yang sulit di bendung saat ini. Paradigma mengajar telah berubah menjadi paradigma belajar. Perubahan paradigma inin membawa konsekuensi profesi guru berubah pula. Paradigma “belajar” didasari oleh belajar untuk menerima (transmisi dan absorbdi) konsep dan prinsip materi pelajaran yang sedang di pelajari. Sedangkan paradigma “belajar” didasari oleh mengkonstruk yang memberikan nilai utama dalam menembangkan ide personal. Dari siswa, yang sangat berbeda dengan paradigma mengajar (mengajar tradisional) bernilai hanya hanya mengembngkan teknik konsep saja Hudoyo, Herman:MUI.1.1)
Kurikulum Berbasis Kompetensi sudah mulai dilaksanakan si seluruh sekolah di Kabupaten Simalungun, dimana proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher center), dimana belajar banyak berorientasi pada buku – buku paket dan siswa dituntut untuk selalu menghafal materi pelajaran yang sedang dipelajari tanpa diberi kesempatan untuk memilih alternatif – alternatif lain tentang materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
Pembelajaran dalam KBK harus berpusat pada siswa (student center), sedangkan peranan guru hanya sebagai fasilitator saja. Namun demikian di setiap akhir pembelajaran guru harus tetap memberikan penegasan – penegasan atau penguatan – penguatan tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari, untuk menghindari salah konsep pada siswa.
Guru saat ini harus selalu berupaya menciptakan situasi belajar yang dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih baik dan menyenangkan, siswa dapat berinteraksi satu dengan yang lain, sehingga situasi belajar yang kooperatif dapat terbentuk dan menyadarkan siswa agar selalu bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
Jika pembelajaran di dalam kelas terasa menggairahkan, dimana siswa terlihat bergairah, bersemangat dan berebut untuk menunjukkan kemampuannya atau hasil pemikirannya, maka inilah yang disebut sebagai kelas yang sudah konstruktivistik.
(Syukur Gazali : 1) menyebutkan bahwa terdapat 5 prinsip belajar berdasarkan teori konstruktivisme :
Menghadapkan peserta didik pada problem yang berkaitan.
Menyusun pembelajaran lewat konsep umum.
Menghargai dan mendorong munculnya pandangan dari peserta didik.
Kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
Selalu menilai kemajuan peserta didik melalui konteks pembelajaran.
b.KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Seluruh program pembelajaran akan dapat mencapai hasil yang diharapkan apabila direncanakan dengan baik. Ada 2 hal pokok yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kegiatan pembelajaran, yaitu :
1.Materi apa yang diajarkan
2.Bagaimana cara mengerjakan
Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah kurikulum yang dirancang dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai – nilai dasar merefleksikan diri, dalam arti memiliki kebiasaan berfikir dan bertindak (kurikulum 2004 : 1).
***ini adalah halaman Lanjutan, untuk melihat halaman awal membuat proposal PTK ini, silahkan klik DISINI !
Agar terjadi situasi belajar yang bermakna, salah satu solusinya adalah melibatkan siswa secara aktif dan menyeluruh dalam proses belajar mengajar.
Menurut Dewey, seharusnya antara kurikulum dan metode mengajar terkait erat dengan pengalaman dan minat siswa. Pengalaman adalah hal apa saja yang sudah diketahui atau dialami siswa yang terekam dalam ingatannya. Sedangkan minat adalah kemauan yang kuat dari siswa untuk mengetahui sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupannya kelak. Dalam pembelajaran CTL disebutkan bahwa seorang pembelajar, baru dikatakan belajar jika ia memproses informasi – informasi yang baru diterima kedalam kerangka berfikir yang telah dimiliki, sehingga pembelajar benar – benar harus menghayati proses belajar mengajar yang ia lakukan, dan ia akan merasakan bahwa ilmu yang ia dapat benar – benar bermakna.
Berdasarkan dari apa yang sudah dipaparkan di atas, maka perbaikan pembelajaran yang akan penulis usulkan adalah pendekatan pembelajaran CTL Multi Model. Melalui pembelajaran CTL Multi Model, banyak hal yang dapat diperoleh, antara lain : siswa belajar berinteraksi dengan kelompoknya, belajar berpendapat dan menghargai pendapat orang lain, bertanggung jawab dan berusaha serta berminat memecahkan masalah yang diberikan oleh gurunya. Upaya perbaikan pembelajaran seperti disampaikan di atas akan penulis lakukan dalam bentuk penelitian tindakan kelas, yang dilaksanakan oleh satu orang peneliti, dalam hal ini adalah penulis sendiri dan tiga kolaborator (Pembimbing, Kepala Sekolah dan dua orang observer). Sebagai Subyek penelitian adalah siswa kelas IV di SD No.097357 Negeri bayu kahean Kabupaten Simalungun tahun ajaran 2009/2010.