****ini halaman lanjutan, untuk halaman awal dari proposal ini adalah "Contoh membuat proposal PTK"
e. MENGAPA PENDEKATAN KONTEKSTUAL YANG DIPILIH ?
Sejauh ini prose pembelajaran masih berpusat pada guru atau buku teks sebagai sumber utama pengetahuan, dimana guru hanya mentaransfer ilmunya dengan cara berceramah, yang sama sekali tidak memberdayakan siswa. Ilmu dimaknai sebagai seprangkat fakta-fakta yang harus di hafal, tanpa dimaknai.
Oleh karena itu diperlukan sebuah strategi belajar”baru” yang lebih memberdayakan siswa menghafal semua fakta-fakta, melainkan mendorong siswa menkonstruksikan pengatahuan yang ada di benak masing-masin. Melalui landasan konstruktivisme, yang di anggap senafas denagn CTL, maka CTL digunakan digunakan sebagai alternative strategi belajar baru, yang diharapkan dapat mengubah pandangan bahwa siswa dapat belajar melalui pengalaman-pengalaman, bukan karena menghafal. Pendekatan kontruktivisme menurut Jonnasen (1991) dan Marra dan Jonnasen (1993), sebagaimana di kutip oleh Carr,dkk(1998:8) dalam Fachrurrazy(2001:1), pendekatan konstruktivisme muncul sebagai alternative terhadap pendekatan obyektivis. Dasar dari pandangan konstruktivis adalah anggapan bahwa dalam proses belajar :
a) Siswa tidak segitu saja menerima ilmu pengetahuan, yang kemudian menyimpannya dalam ingatan, melainkan mereka menerima informasi-informasi dari lingkungan sekitarnya, kemudian membangun pandangan mereka sendiri tentang pengetahuan yang baru mereka dapatkan
b) Semua pengetahuan disimpan dan di gunakan oleh setiap orang melalui pengalaman-pengalaman yang dihadapinya.
Pendekatan konstruktivisme dalam praktek pengajaran (Brooks & Brooks dalam Fahrurrazy:1) akan dapat membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk atau mentransformasi pengetahuan baru.
Ciri-ciri dari prinsip konstruktivisme:
1. Siswa lebih aktif dalam proses belajar mengajar karena focus belajarnya ada pada proses pengintegrasian pengetahuan baru dengan pengertian lama, yang sudah di miliki. Setiap pandangan meskipun berbeda akan tetap dihargai kemungkinan mensintensis segala sesuatu yang terintegrasi.
2. Proses belajar mengajar harus selalu mengarahkan siswa untuk bekerja sama, bukan bersaing.
3. Kontrol kecepatan dan focus pembelajaran, ada pada siswa, karena hal ini siswa harus benar-benar di berdayakan.
4. Pendekatan kontruktivisme akan memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang tidak lepas dari konteks kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu guru yang kontruktivis harus mampu :
a. Menggali kemampuan awal siswa yang di jadikan sebagai acuan untuk memulai pembelajaran.
b. Menyajikan pembelajaran yang memunculkan masalah-masalah baru yang relevan bagi siswa, merancang pembelajaran yang memulai dari konsep dasar sampai ide-ide besar, bukan bagian-bagian kecil yang terpisah-pisah satu sama lain.
c. Memberikan tugas pada siswa yang mengarah pada pelatihan kemampuan yang mengklasifikasi, menganalisa, memprediksi dan mencipta.
*****lanjut ke :


